Jumat, 23 September 2016

Menetas


Hello everyone!

Berhubung ini merupakan postingan pertama di blog ini, kita kenalan dulu ya.

Here we go!

Blog ini dibuat dan ditulis oleh seorang mahasiswi semester satu  program studi Sosiologi (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) di Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Punya hobi tidur, ngemil, nonton film, nyanyi, baca novel, pokoknya yang ena ena. Kalo disuruh deskripsiin diri dengan satu kata, mungkin kata “ceria” cocok sama kepribadianku.

Kedepannya, blog ini selain untuk memposting hal hal yang berkaitan dalam pemenuhan tugas, juga akan terisi dengan artikel artikel amatir atau sekedar cerita tentang kehidupanku.

Sekian perkenalan dari aku, salam super!
Dari seorang deadliner yang saat ini sedang mencoba untuk belajar menulis.

Dapat Apa?




Sekolah Penerus Bangsa merupakan suatu program yang dilaksanakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sebelas Maret, Surakarta, ditiap tahunnya. Program ini ditargetkan khususnya untuk para mahasiswa baru maupun mahasiswa lama sebagai tempat untuk mengasah jiwa nasionalisnya, meningkatkan kemampuan softskill dan sebagainya. Berhubung saya adalah mahasiswa baru yang ingin aktif dan masih penasaran tentang hal-hal baru di dunia perkuliahan, saya memutuskan untuk mengikuti acara tersebut.


Singkat cerita, dari kurang lebih 1000 pendaftar, hanya 200 orang beruntung yang diterima menjadi siswa Sekolah Penerus Bangsa atau yang biasa disingkat SPB 2016, termasuk saya salah satunya. Berhubung artikel ini merupakan pemenuhan tugas selepas acara Grand Opening yang dilaksanakan tanggal 16-18 September 2016, mari kita mulai langsung ke topiknya.

Grand Opening Sekolah Penerus Bangsa 2016
Lokasi: Korem Warastratama 074, Jl. Slamet Riyadi, Kerten, Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57143, Indonesia.

Berbicara tentang hal yang saya dapatkan selama 3 hari 2 malam di Grand Opening Sekolah Penerus Bangsa, tentu banyak sekali. Dari bertemu dan bertegur sapa dengan teman-teman baru, mengikuti materi yang disampaikan oleh kakak-kakak yang penuh inspiratif, makan bersama, games seru, senam, lari pagi, sampai turun langsung ke pasar.

Dalam penyampaian materi, ada beberapa hal yang saya ringkas, antara lain:

§  Di materi pertama tentang Mengenal Diri, saya menyimpulkan hal yang dapat saya ambil adalah tentang betapa perlu dan pentingnya kita memahami diri kita sendiri, sebagai apa kita, untuk apa kita, dan apa yang kita bisa lakukan untuk Indonesia. Dalam mewujudkan hal yang akan dilakukan untuk menjadi the real “generasi penerus bangsa”, kami diajarkan untuk tidak lagi berpikir secara konseptual, yang cakupannya sangat besar dan luas. Tapi disini kami dituntut harus memberikan bukti-bukti konkrit untuk perubahan, walaupun lingkupnya kecil. Contohnya seperti saya konsisten untuk tidak telat dalam setiap acara.

§  Materi kedua berjudul Peran Mahasiswa. Materi ini tentunya membahas tentang peran-peran yang harusnya dilakukan oleh mahasiswa. Ada 4 poin penting dalam materi ini:
1.      Mahasiswa sebagai agent of change
Sebagi mahasiswa, kita tidak hanya menjadi penggagas perubahan, melainkan juga menjadi pelaku dari perubahan tersebut. Mahasiswa diharapkan mampu berpikir untuk melakukan perubahan kearah positif dengan tidak menghilangkan jati diri kita sebagai mahasiswa dan Bangsa Indonesia. Namun untuk mengubah sebuah negara, hal utama yang harus dirubah terlebih dahulu adalah diri sendiri. Untuk itu kita harus mulai perubahan-perubahan kecil dalam diri kita.

2.      Mahasiswa sebagai iron stock
Maksudnya disini, mahasiswa mmerupakan seoarang calon pemimpin masa depan yang akan menggantikan generasi yang ada dengan kemampuan yang ia miliki. Pengembangan softkill, kreativitas dan inovasi diperlukan dalam hal ini.

3.      Mahasiswa sebagai social control
Disini mahasiswa seharusnya menumbuhkan jiwa sosial yang peduli terhadap masyarakat, karena kita sendiri merupakan bagian dari masyarakat. Kepedulian tersebut tidak hanya diwujudkan dengan semacam aksi atau demo saja. Melainkan dari pemikiran-pemikiran cemerlang, diskusi, dan sebagainya.

4.      Mahasiswa sebagai moral force
Dalam kehidupannya, mahasiswa dituntut untuk dapat memberikan contoh atau teladan yang baik bagi masyarakat. Hal ini dikarenakan mahasiswa adalah bagian dari masyarakat sebagai kaum “terpelajar”. Maka dari itu, peran moral force sangat dibutuhkan bagi mahasiswa Indonesia yang secara garis besar memiliki tujuan untuk menjadikan negara ini lebih baik.

§  Selanjutnya untuk materi ketiga yaitu tentang Menulis.
Bukan menulis sesederhana yang dipikirkan. Dalam materi ini kami belajar bagaimana menulis tulisan yang baik, sesuai dengan standar etika penulisan.

Intinya, acara Grand Opening SPB 2016 seru! Saya senang sekaligus bangga bisa berada disini. Berada di hadapan teman-teman hebat seperti mereka, saya merasa seperti orang yang serba kekurangan. Kekurangan ilmu, kekurangan keberanian, bahkan mungkin kekurangan semangat. Tapi dari kekurangan kekurangan itulah saya belajar untuk menyempurnakannya di sekolah ini.

Salam generasi penerus merah putih!